Gorontalo – Vanesa Anggriani Soriton, mahasiswa Semester VI Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Sultan Amai Gorontalo, berhasil terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Program (PYP) Tahun 2025. Program bergengsi yang digagas PT Pertamina bekerja sama dengan Institut Energi Anak Bangsa (IEAB) ini merupakan wadah pengembangan kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta pendalaman pengetahuan dunia energi bagi mahasiswa terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kegiatan PYP tahun ini diikuti oleh 50 peserta yang diseleksi mulai dari 500 peserta awal dari seluruh Indonesia dan dilaksanakan pada 15–20 Juli 2025 di Hotel Harris, Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.
Vanesa mengungkapkan bahwa mengikuti PYP merupakan pengalaman berharga yang memberikan ruang belajar dan pengembangan diri yang luas. Ia menuturkan bahwa proses seleksi yang ia jalani tidak mudah, dimulai dari lebih dari 500 peserta pada tahap awal hingga akhirnya mengantarkannya masuk dalam 5 besar peserta terbaik secara nasional.
“Mengikuti Pertamina Youth Program merupakan pengalaman yang sangat berharga dan luar biasa bagi saya. Dari tahap pertama dengan lebih dari 500 peserta, kemudian tersaring menjadi 100 orang pada tahap kedua, hingga akhirnya 50 peserta terpilih secara nasional, saya bangga bisa melangkah sampai berada di posisi 5 besar,” ungkapnya.
Menurut Vanesa, keterpilihannya bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik bagi Jurusan AFI dan IAIN Sultan Amai Gorontalo. Ia berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani mengambil peran dalam program-program besar di tingkat nasional.
“Saya berharap semakin banyak anak muda dari daerah yang percaya diri untuk mengambil peran dalam program-program besar seperti ini, karena perubahan besar seringkali dimulai dari langkah-langkah kecil,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengalaman selama mengikuti PYP menunjukkan bahwa setiap anak muda memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan menunjukkan kapasitasnya.
“Proses seleksi yang ketat membuat saya terus belajar dan meningkatkan kemampuan, mulai dari kepemimpinan, komunikasi, hingga berpikir kritis dan inovatif,” tutupnya.
