IAIN Sultan Amai Gorontalo melalui Fakultas Ushuluddin dan Dakwah sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Filsafat Nusantara dalam Perspektif Sejarah dan Budaya” pada Kamis, 25 September 2025. Kegiatan ini menghadirkan para akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mendiskusikan kekayaan pemikiran Nusantara yang berakar pada sejarah panjang serta tradisi budaya bangsa.
Seminar ini menjadi ruang akademik yang penting untuk menegaskan kembali bahwa pemikiran Nusantara memiliki landasan filosofis yang kaya dan relevan dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan kontemporer. Melalui forum ini, peserta diajak untuk melihat tradisi, kearifan lokal, dan praktik budaya sebagai sumber pengetahuan yang layak dikaji secara filosofis.
Dalam sambutannya, Aminudin, M.Hum., yang mewakili Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) IAIN Sultan Amai Gorontalo, menekankan bahwa filsafat Nusantara tidak sekadar merekam warisan intelektual masa lalu, tetapi juga menawarkan perspektif alternatif yang kontekstual bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Selain memberikan sambutan atas nama program studi, Aminudin juga tampil sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Salah satu narasumber utama, Moh. Muhtador (Dosen AFI UIN Sunan Kudus), memaparkan pentingnya penguatan fondasi keilmuan filsafat Nusantara. Menurutnya, kajian ini perlu terus dikembangkan agar khazanah pemikiran lokal dapat dirumuskan sebagai kontribusi ilmiah yang memiliki posisi strategis dalam perkembangan studi filsafat.
Selain itu, Nazar Husein (Dosen AFI IAIN Sultan Amai Gorontalo) turut menjadi pemateri dan menyoroti tantangan serta peluang pengembangan filsafat Nusantara di tengah dominasi tradisi filsafat Barat. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut justru membuka ruang yang luas bagi para akademisi untuk menggali dan mengembangkan kekayaan intelektual bangsa secara lebih sistematis.
Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti berbagai aspek, mulai dari tradisi lisan, mitologi, hingga praktik budaya lokal sebagai bentuk refleksi filosofis yang khas Indonesia. Para peserta juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan tantangan global agar filsafat Nusantara tetap aktual dan relevan.
Seminar nasional ini diikuti oleh lebih dari seratus peserta, baik secara luring maupun daring, yang terdiri atas dosen, mahasiswa, peneliti, serta pegiat budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Di akhir kegiatan, forum merumuskan sejumlah rekomendasi, antara lain penguatan kajian filsafat Nusantara di perguruan tinggi, pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal, serta dorongan untuk meningkatkan publikasi ilmiah di tingkat nasional dan internasional.
Kegiatan ini menegaskan komitmen IAIN Sultan Amai Gorontalo untuk terus menghadirkan ruang-ruang akademik yang mendorong pengembangan khazanah keilmuan Islam dan pemikiran Nusantara sebagai bagian penting dari pembangunan intelektual bangsa. Kegiatan ini juga merupakan wujud dari penguatan kolaborasi antara Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kudus, Jawa Tengah.
